Lagee Aceh

Pasar Rakyat

Pasar Rakyat

Lagee Aceh

Oleh Teuku Dadek

Nabi Musa pernah bolak-balik dibuat bani Israil untuk bertanya kepada Allah swt, tentang sapi betina apa yang disembelih untuk memutuskan satu perkara. Sifat suka bertanya, padahal masalahnya sudah jelas, dalam terminologi Aceh disebut dengan lagee, laku, sesuatu yang hidup dalam masyarakat. Namun sebenarnya jangan dilakukan seperti itu, tapi itu berlaku. Itulah lagee, leu tat lagee, kata orangtua untuk anaknya yang sering buat ulah.

Yang terbaru adalah lagee gaya Amerika, kebencian mereka kepada Islam dimanfaatkan kelompok Hilary terhadap Barrack Obama, foto berjubah dan bersorban (pakaian tradisional Somalia yang dikenakan sebagai tamu terhormat oleh masyarakat Somalia) dan kini nama tengah Barack Obama yaitu Hussein menjadi isu terbaru sebagai alat untuk menyerang kandidat capres dari Partai Demokrat. Ini lagee yang seharusnya tidak perlu dibuat namun itu tetap harus ditampakkan dalam masyarakat Amerika.

Zaman Orde Baru dengan Golkarnya, mereka juga punya lagee. Menjelang pemilu tonggak atau tiang listrik ditabur di setiap desa dengan harapan rakyat mengerti bahwa jika pemilu Golkar menang maka tiang akan tegak. Semua masyarakat punya lagee, termasuk Aceh.

Lagee paling maujud dan banyak. Dalam konteks Aceh bisa berbentuk sebuah ciri khas, wujud dalam kehidupan hubungan profesi, dalam sumpah seurapah dan karakter seharian satu kelompok baik karena tempat tinggal (Ureung Panga, Pidie dan lainnya) maupun karena profesi (ureung tani, ureng tunong, ureung laot).

Dalam hadeh maja Aceh, lagee ini digambarakan secara gamblang dalam ungkapan tom panga, rasa teunom, lekok manggeng, puseng peulumat, suara manggat samadua, rupeun pase, ramane nagan, pidie prak, samalaga walak-walak. Ini adalah sebuah gambaran khas (lagee) yang sering menjadi kewaspadaan dari orang luar untuk berhubungan dengan masyarakat tersebut.

Di masyarakat nelayan, lagee, misal jika seorang pemilik pukat dan juga berprofesi pawang pukat darat, terus memaki alias ceumarot (memaki entah untuk siapa) ketika pukat sudah di darat, hasil pukat memang tidak seberapa, namun pertanyaannya mengapa ia ceumarot ketika pukat sudah di darat? Ketika pukat masih ditarik, ia justru bersemangat memotivasi para penarik pukat, tapi mengapa sekarang seolah-olah tidak kenal dan malah ceumarot? Inilah tradisi di tepi pantai ketika pukat di darat, pawang atau pemilik pukat terus memaki entah kepada siapa, yang jelas ia ingin memutuskan komunikasi dengan para relawan tarik pukat agar tidak menuntut banyak dari hasil yang didapat yang oleh orang Aceh disebut dengan bulung.

Di tepi pelabuhan sungai, tempat ikan didaratkan, juga ditemukan muka masam dan ceumarot para toke bangku. Ia harus bersikap begitu, karena ketika ikan didaratkan, ada saja orang yang mengambil ikan untuk kawan nasi dan toke bangku atau pawang tidak kuasa melarangnya. Maka ceumarot dan muka masam sajalah yang dapat menghentikan kelakuan masyarakat itu.

Masalah bukan hasil yang akan dibagi, tetapi mengapa budaya ceumarot itu ada? Dalam khasanah budaya Aceh, ceumarot atau makian adalah satu fenomena menarik, terutama jika kita melihat dari kelompok yang menggunakannya, umumnya ceumarot paling banyak berlaku di kalangan nelayan, namun ketrampilan ini hanya mereka praktikan di darat, tidak di laut, sebab pantang bagi mereka melakukannya kerana akan ditimpa banyak kesialan.

Menyemat gelar terhadap seseorang, menjadi keterampilan para nelayan kita. Misal, jika ada seorang yang hobynya menumpang hidup dari orang lain (parasit) maka ia digelar lagee ungkoet tep––jenis ikan yang suka menempel pada ikan lain dalam mencari makanan. Jika seseorang hobinya menempel pada janda-janda yang kesepian disebut ikan cung ––jenis ikan yang suka sekali bermain di sungai tempat para wanita mencuci baju; lagee ungkoet cung, dipat janda di sinan meuujung.

Tradisi ceumarot dan mengumpat biasa terjadi di pasar-pasar tradisional. Namun yang paling banyak memproduksi pameo ini umumnya kaum nelayan. Beda dengan petani, harmonisasi alam sangat penting, karena bicara yang bernada kotor bisa-bisa tumbuhan tidak tumbuh.

Dalam khasanah ceumarot Orang Aceh, yang aneh adalah kata-kata kotor itu (maaf) banyak menggunakan nama-nama kelamin. Ini sulit mencari jawabannya mengapa memilih barang-barang sensitif yang dalam rok atau celana itu? Apakah ini mungkin sangat berkaitan dengan obesesi sex Orang Aceh dan pandangan kehinaan yang tidak mampu menjaga kemuliaan tersebut?

Pemilihan kata-kata yang pedas dan menghina ini hampir sama dengan komunitas Cina di Medan, yang banyak mengutip alat kelamin jika mereka memaki seperti lan ciau (kelamin laki-laki) dan ji bai (kelamin perempuan), dan lainnya yang jorok.

Pilihan kata yang banyak digunakan orang Aceh untuk ceumarot, menyamakan orang yang dicarot dengan binatang, seperti bui suegut (babi yang jalan tak lihat kiri kanan), asee klakson, pajoeh bue pijuet, payoeh eek tembuen (seperti anjing yang makan nasi kurus tapi (maaf) makan taik jadi gemuk), engkong keurawat (seperti monyet). Padahal beberapa ahli binatang, mengatakan, bahwa terkadang binatang lebih baik dari manusia. Beda dengan dengan masyarakat Jawa, misalnya Yogja, mereka ––-mungkin agak sopan––-lebih sering menggunakan kata-kata bagian dari tubuh, misalnya ndasmu (kepalamu), matamu, batoukmu (otakmu) dan lain sebagainya.

Satu lagi, lagee wujud dalam kebiasaan bersumpah dengan nama binatang. Ini bertentangan dengan kebiasaan orang Arab yang suka menggunakan kata illah, waallah. Bah dipajoeh deek rimueng (biar dimakan harimau), bak ikap deek buya (biar didik buaya kalau salah), bah budoek (biar berpenyakit kusta kalau sumpahnya tidak benar) terkadang sumpah itu tidak tepat namun rimueng/harimau, buya/buaya sudah sulit ditemui, karena semakin sering digunakan untuk sumpah membenarkan sebuah kebohongan.

Lagee juga wujud misalnya, pascatsunami, banyak NGO yang akan membangun beberapa sarana umum, namun dengan catatan harus ada tanah sebagai hibah dan tanda partispasi masyarakat. Biasanya ada saja masyarakat yang siap menghibahkan tanahnya, namun setelah sarana umum itu berdiri, ada saja langkah yang menghibahkan untuk menuntut ganti rugi atas tanah tersebut, terutama kepada pemerintah, ini juga terjadi di beberapa ruas jalan masyarakat yang dibangun pemerintah, awalnya hibah, namun kemudian ganti rugi menjadi senjata.

Para NGO juga sangat kesulitan dalam menentukan calon penerima rumah, karena ada lagee, khusus Orang Aceh mengajukan lamaran ke banyak NGO untuk memperoleh rumah, dengan nama dari salah satu anggota keluarga, akibatnya double. Ini terjadi dengan alasan untuk tetap memperoleh satu rumah, namun mengajukan dua atau tiga rumah untuk jaga-jaga jangan sampai tidak dapat rumah dan ingin memperoleh siapa yang duluan siap bangun rumahnya.

Satu lagi anggukan bagi Orang Aceh bukan berarti setuju. Banyak kasus pemotongan uang oleh aparat gampong biasa lahir dari sebuah kesepakatan dengan para penerima bantuan. Sebelum mendapatkan uang mereka akan setuju untuk dipotong sebagai imbalan bagi aparat gampong, namun ketika uang sudah turun dan pemotongan terjadi mereka kadang tak segan melaporkan pemotongan uang tersebut.

Lagee adalah satu kenyataan, namun sebenarnya tidak perlu terjadi. Ini karena masyarakat yang tidak terus terang. Lagee tumbuh karena keinginan yang sebenarnya tidak diungkap, tetapi harus dibaca oleh orang lain sebagai sebuah ungkapan dan keinginan si pembuat lagee. Lagee lahir dari masyarakat introvert, masyarakat yang berorientasi kepada diri sendiri, pahami dulunya dirinya, dan belum tentu paham orang lain; lahir dari masyarakat peragu, penuh instrik dan sekarang lagee terus berproduksi, diciptakan, diwujudkan semuanya untuk mengelapkan, ia kontraproduktif dengan kalimat yang wajar (qaulan ma´rufa), kalimat yang baik (qaulan husnah), kalimat lemah lembut (qaulan kalimat yang benar (qaulan sadida), kalimat terus teras walaupun pahit.

*) Penulis adalah pengamat sosial dan budaya, tinggal di Meulaboh.

Sumber: Serambi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.