Kebal Aceh

Putri & CS

Putri & CS

Kabar tentang sosok Cut Bang Keumangan (CBK) yang kebal sudah cukup kesohor. Tidak cuma di gampong ku. CBK juga dikenal hingga ke Kuta Raja (Banda Aceh). Pada masa Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) dulu,  CBK berhasil menggegerkan penonton dengan atraksi kebalnya. Hampir semua atraksinya mengatasi semua atraksi kebal yang pernah ada.

Ada yang bilang kalau kebal CBK itu hasil maqrifat yang diperolehnya dalam tapa diri selama 99 hari di hutan yang tidak pernah dikunjungi orang kampung. Kabarnya, tapa diri CBK dikawal pula oleh tiga harimau yang masing-masing berwarna beda, putih, hitam, dan kuning keemasan. Kesimpulan ini bisa jadi kerena dalam atraksi CBK kerap tampil dengan gaya auman harimau, atau jurus harimau bertengkar.

Ada juga kabar kalau kebal CBK adalah hasil kebal keturunan dari kakeknya yang menurut cerita juga kebal dan sangat legendaris di mata prajurit Belanda. Kesimpulan ini karena waktu CBK kecil pernah hilang secara misterius. Orang-orang berpikir kalau CBK kecil dibawa geunteuet. Tapi,  menurut orang pintar CBK kecil “dibawa” kakeknya untuk diturunkan ilmu kebal.

Terakhir, informasi yang lebih akurat menyatakan kalau kebal CBK bersumber dari  kalung yang matanya berwarna merah. Kalung ini tidak dipakai di leher melainkan dipakai di pinggangnya. Kalung itu, kabarnya diperoleh CBK kala melakukan pencarian rotan ke hutan.

Seeokor harimau, kala itu mengincar CBK yang sedang mengambil rotan. Tapi, CBK yang sudah mengetahui gelagat dari sang harimau tidak ambil pusing.  CBK merasa sudah mengikuti prosedur masuk hutan sebagaimana umum diketahui oleh orang kampung. Jadi, CBK merasa tidak perlu takut dengan sang raja hutan itu. Namun, tanpa disadari sang harimau itu tetap saja menyerang CBK.

Maka, terjadilah duel seru. Anehnya, tebasan parang panjang CBK yang mengenai leher harimau tidak justru membuat sang harimau terlaku, apalagi mati.  Tidak ada setetes darahpun muncrat dari tubuh harimau itu padahal tebasan parang tajam CBK juga mengenai perut sang harimau.

Akibat daya dorong harimau yang melakukan terkaman dengan cara melompat maka CBK terhempas hingga mencium tanah. Tapi, dengan secepat kilat pula CBK membalikkan tubuhnya dan kembali berada pada posisi siap menggerakkan badan harimau yang sudah siap menerkamnya.

Dalam sekali gerakan tangan CBK langsung memegang sebelah kaki depan harimau sementara  tangan sebelahnya menopang leher sang harimau, dan dengan gerak cepat CBK menghentak untuk membuat dirinya terbebas dari cengkraman sang harimau belang itu. CBK berhasil tapi dengan secepat kilat pula sang harimau yang sudah tua itu melakukan tendangan dengan kaki belakangnya sehingga CBK kembali terlempar jauh ke belakang.

Duel seru itu terus berlangsung hingga pada satu kesempatan CBK berhasil mengunci leher binatang buas itu. Kala itulah CBK melihat ada kalung yang melingkari leher sang harimau. Seperti ada yang menyuruh lewat bisikan akhirnya dengan gerakan mulut CBK berhasil melepas kalung berantai emas itu.

Sejak itu pula, kekuatan sang harimau seperti lumpuh dan CBK pun tiba-tiba mengalami penambahan tenaga. Mengetahui sang harimau sudah tidak berdaya CBK langsung melepas cengkraman tangannya yang dari tadi seperti memelintir leher sang harimau. CBK teringat pada petuah ibunya yang melarang menyakiti makhluk tuhan dan segera berlaku baik dan lembut walau kepada musuh sekalipun,  apalagi jika orang atau musuh itu sedang tidak berdaya.

Kala itu lah seperti terjadi dialog batin antara CBK dengan sang harimau.

“Aku minta maaf karena sudah mengganggu kerja mu mencari rotan, dan minta maaf karena telah menerkammu walau kamu tidak melanggar adat masuk hutan.”
“Maaf kan juga aku, yang sudah terpaksa melawanmu dan kini mengambil milikmu. Sekarang, ambillah kembali milikmu, kalung ini.”
“Jangan. Tadi aku menyerangmu justru sbg isyarat bagiku karena aku sesungguhnya mau menyerahkan kalung itu untuk mu. Jika bukan karena itu tadi aku sudah merobek-robek tubuhmu.”
“Aku tidak mungkin mengambil milik orang lain apalagi dengan cara kasar dan paksa. Tidak. Lagi pula aku tidak butuh kalung walau itu cukup bagus, dan mungkin saja sangat berharga. Aku cuma butuh beberapa rotan karena dengan rotan itulah aku dapat memperoleh uang secara wajar,  karena itu lah profesiku selama ini. Aku tidak mungkin menjual kalung ini kerena semua orang tahu kalau kerjaaanku sebagai penjual rotan tidak mungkin sanggup untuk membeli kalung, apalagi kalung seindah ini. Ini ambillah kembali, milikmu.”

“Jangan anak muda. Aku memang ingin mewariskan kalung ini padamu dan aku yakin dinamika hidupmu akan membutuhkan kalung ini. Dengan kalung ini, insya allah, kamu akan lebih terlindungi dari kerasnya  hidup,  dan akan membuatmu bisa beralih profesi karena tidak lama lagi hutan-hutan sudah menjadi milik orang dan kamu tidak akan bisa masuk lagi kehutan ini. Satu yang tidak boleh kamu lakukan dengan kalung itu, yakni melupakan tuhan dan keluar dari jalan yang dilarang oleh tuhan dalam menjalani kehidupan.”

Belum sempat lagi CBK menyela nasehat harimau yang diterimanya lewat batin tiba-tiba CBK tersentak dari lamunannya dan mendapatkan satu keanehan karena harimau yang dari tadi bergelut dengannya sudah mati. Dan, seperti ada kekuatan yang membimbing  kalung itu kini sudah melingkar di pinggangnya.

Seluruh kisah tentang CBK sungguh semakin membuatku penasaran dan semakin membuatku ingin bertemu dengan CBK yang kini sudah berusia lanjut tapi tetap menampilkan aura wibawa yang amat kental. Dan, pertemuan itu akhirnya berlangsung juga, persis usai shalat subuh di mesjid tua dalam lingkungan Dayah Ujoeng Deuen.

“Cut bang. Saya sudah mendengar semua tentang Cut Bang.”

CBK hanya menatapku dalam-dalam kala aku buka perbincangan dengan mimik serius. Dan, anehnya laki-laki tua yang tidak pernah dipanggil kakek atau ayahwa ini seperti bisa membaca alur pikiranku. Dan, seperti memiliki mesin transper pikiran aku langsung memiliki seluruh penjelasan tentang apa yang ingin aku tanyakan dan sekaligus menerima jawaban atas niat yang hendak kusampaikan. Sampai CBK  berlalu dari hadapanku karena beliau diajak Tengku Dayah aku tidak menerima penjelasan lisan.

Pada malam harinya, aku terkejut karena dari corong pengeras suara mesjid gampong diumumkan kalau Sang Guru Kebal Aceh itu sudah berpulang persis kala melakukan sujud pada shalat maqrib.

Langsung saja aku  teringat penjelasan bathin CBK. Menurutnya,  Ureung Aceh  memang penting untuk memiliki Kebal Aceh. Dan, lebih utama lagi jika Kebal Aceh dimiliki oleh para pemimpin di Aceh. Tanpa memiliki Kebal Aceh maka para pemimpin akan mudah terpasung oleh berbagai tarikan dan pengaruh politik.

Dulu, kebal oleh orang Aceh dipakai sebagai kearifan lokal baik sebagai media untuk menjelaskan logika-logika agama maupun sebagai peringatan kepada musuh penjajah bahwa kuasa tuhan bisa saja mengalahkan mesin pembunuh penjajah. Kini, seiring dengan zaman yang sudah berubah maka Kebal Aceh sangat utama untuk menghadapi tantangan globalisasi.

Sampai disini, terus terang aku kebingungan. Gimana kebal bisa punya korelasi dengan globalisasi? Tapi, aku tidak kuasa untuk menolak penjelasan. Yang ada dalam bathin ku adalah kepasraan berharap agar CBK mau menurunkan ilmu kebalnya kepada ku. Untuk apa pun ilmu kebal itu pasti aku akan siap menjadi murid CBK. Pasti aku akan sangat bangga menjadi satu-satunya murid CBK.

Sayangnya, sampai CBK menghilang dari hadapanku aku tidak menerima apa-apa dari CBK. Tidak ada doa-doa yang siap untuk aku hafal. Tidak ada sentuhan tangan sebagai media untuk mentransfer ilmu dalam. Juga, tidak ada prosesi penyerahan kalung bermata merah. Aku hanya merasa berpeluh keringat selama menerima penjelasan bathin namun  akhirnya seperti menjadi pribadi yang tanpa beban. Plong.

Sejak itu,  di bibir dan batinku kerap menyebut Kebal Aceh sebagai kependekan dari  Keberanian Alamiah (Kebal) Aceh.  Selamat jalan CBK, semoga Allah menempatkanmu disisinya. Yakinlah, aku akan melakukan tapa diri untuk merekontruksi diri agar bisa tampil kembali menjadi ureung yang walau hana keubai tapi  memiliki keberanian alamiah Aceh,  “Kebal Aceh.”

Lambaro, 6 Maret 2008

Ditulis dalam budaya. Kaitkata: . Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.